Tokoh Inspiratif; Joko Widodo

Joko Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 21 Juni 1961. Beliau mengenyam pendidikan di SD negeri 112 Tirtoyoso, SMP Negeri 1 Surakarta, SMA Neger 6 Surakarta, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan hingga kini beliau bertitel Ir. H. Joko Widodo.

Ketika duduk di bangku SMA, Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi ini mencoba mendaftarkan dirinya pada salah satu SMA favorit yang ternyata berujung dengan kegagalan. Akhirnya Jokowi sekolah di SMA biasa. Namun, kejadian tersebut tetap saja membuat dirinya kecewa karena keinginannya untuk duduk di SMA favorit tidak terlaksana.

Dalam menjalani pendidikan, Jokowi termasuk orang yang penurut dan mematuhi peraturan keluarganya. Jokowi memilih kuliah di fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada karena ayahnya juga seorang tukang kayu. Beliau ingin lebih mendalami tentang pekerjaan ayahnya melalui belajar ilmu kehutanan. Selanjutnya ilmu ini dipakainya dalam mengembangkan bisnis yang sempat ia jalani di Solo, sebelum ia menjabat di pemerintahan sebagai walikota Solo.

Menurut teori psikologi Carl Jung (dalam Feist & Feist, 2005), Jokowi memiliki tipe kepribadian ekstraversi karena beliau lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya dan memiliki pandangan yang objektif. Contohnya, saat ini Jokowi dalam melakukan pekerjaan berdasarkan fakta yang ada. Seperti saat menjadi Gubernur DKI beliau mengajak warga sekitar yang tinggal di pinggiran sungai untuk membahas relokasi.

Sedangkan menurut teori kepribadian Alfred Adler (dalam Feist & Feist, 2005), Kedekatan beliau dengan ibunya menjelaskan hangatnya sikap yang dimiliki Jokowi kepada orang banyak. Karena menurut teori Adler, minat sosial yang dimiliki seseorang bersumber dari ibunya. Minat sosial ini mulai berkembang pada bulan-bulan pertama setelah seseorang lahir.

Hidup di keluarga yang sederhana, Jokowi pun mulai menargetkan beberapa tujuan hidupnya, dari tujuan sederhana hingga tujuan terbesarnya dalam hidup. Hal ini sesuai dengan penjelasan Alfred Adler bahwa setiap orang memiliki tujuan akhir dan kekurangannya memotivasi dirinya meraih keberhasilan.

Usaha yang dilakukan Jokowi adalah usaha yang produktif secara sosial karena tujuannya adalah keberhasilan bersama dan bukan superioritas pribadi. Ini menunjukkan bahwa Jokowi memeliki pribadi yang sehat secara psikologis.

Jokowi telah belajar melindungi dan merawat orang lain sejak adik pertamanya lahir. Ia pun terus hidup dengan sifat protektif hingga ia dewasa. Hal ini berkaitan dengan teori Adler mengenai konstelasi keluarga bahwa urutan kelahiran dapat menjadi faktor perbedaan sifat yang dimiliki setiap anak dalam keluarga.

Kekerasan sewaktu kecil, seperti penggusuran rumah yang dilakukan petugas dengan anarkis, juga membentuk tujuan Jokowi setelah ia menjabat sebagai presiden. Jokowi sangat menekankan tidak adanya kekerasan dalam upaya penertiban dan tetap bersifat sederhana. Kasus ini sesuai dengan teori Alfred Adler yang menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman masa kecil menghasilkan pemahaman tentang tujuan akhir dan gaya hidup mereka saat ini.

Tokoh Jokowi menjadi sangat inspiratif bagi saya dikarenakan kesederhanaannya. Tidak peduli setinggi apapun jabatan yang sedang diduduki, beliau akan selalu bersifat sederhana dan memerhatikan rakyat kecil. Perilakunya ini terkadang membuat para ajudan atau protokolnya sangat khawatir atas keamanan Jokowi.

Tidak hanya itu, Jokowi pun memperlihatkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Beliau tidak masalah jika terkena macet karena beliau melarang pengawalnya untuk membunyikan sirine ketika para ajudan sweeping jalanan. Sebagaimana tertulis dalam artikel dari indeksberita.com yaitu sikap presiden tetap mengutamakan penghormatan pada masyarakat pengguna jalan.

Sikap Presiden dan protokol yang diterapkan, untuk memperlancar pekerjaan dan menjaga keselamatannya, sangat bersahabat dengan masyarakat. Ini perlu disebarluaskan, sebagai pembelajaran bagi pejabat sipil/militer maupun swasta, yang senang dengan pemakaian foraider.

Dalam protokol itu jelas sekali arahannya, agar dalam pemakaian jalan, tetap menghargai pengguna jalan lain. Hal tersebut ditunjukan dengaan tidak boleh melakukan tindakan agresif di jalan, tidak boleh menggunakan sirene yang meraung-raung, dan selalu mengacungkan jempol pada pengendara lain yang mau memberikan jalan. Luar biasa.

Ini juga mengingatkan kepada para pejabat negara, sesibuk apapun dalam menunaikan tanggungjawabnya, untuk tetap menghormati warga. Jika memang keistimewaan pengawalan yang dimiliki, harus digunakan, tetap hargai pengguna jalan yang lain.

Protokol pengamanan presiden Jokowi saat ini, membatasi penggunaan sirene. Sepanjang perjalanan, sirene dilarang untuk meraung-raung, menakut-nakuti warga pengguna jalan. Karena prinsip dari fungsi perlengkapan itu adalah untuk mengingatkan pengendara lain, bukan untuk mengusir apa lagi untuk menakut-nakuti.

Pejabat lain yang memiliki hak istimewa untuk mendapat pengawalan, sebaiknya ikuti protokol pengawalan Presiden Jokowi. Dan tentunya menghitung dengan baik waktu dan rute perjalanan yang akan dilakukan, agar semakin kecil kemungkinan mengurangi hak warga.

Bukankah Presiden Jokowi sebagai pemimpin tertinggi sudah mencontohnya? Jadi yang lain yang menjadi bawahannya tentu harus malu jika berlebihan menggunakan hak istimewanya. Bagi yang tidak berhak, tentu harus lebih malu. Uang yang dimiliki bisa membeli keistimewaan (privilege). Tapi tetap jangan keistimewaan tadi melanggar peraturan perundang-undangan, dan mengambil hak warga yang lainnya.

Perubahan protokol pengawalan Presiden, mudah-mudahan menjadi protokol tetap yang berlaku untuk semua Presiden kedepannya. Bukan perubahan karena karakter kesederhanaan Jokowi pribadi. Kita harus ubah paradigma kita tentang pemimpin dan privilege yang menyertainya. Pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar, tentu wajar memiliki hak istimewa. Tetapi sebaiknya kita tetap menuntut agar mereka dalam menggunakan hak istimewa mereka, jangan merugikan hak-hak warga.

Memang banyak berita simpang siur tentang kerendahan hati Jokowi. Banyak yang mengatakan bahwa kerendahan hati yang ia tunjukkan selama ini hanyalan pencitraan guna membangun citra diri. Namun Jokowi terlihat tidak menghiraukan komentar-komentar itu. Jokowi tetap bersikap sederhana layaknya masyarakat sipil biasa.

Sejak Jokowi menjadi orang nomor satu di negara ini, dalam setiap kunjungannya Jokowi selalu mengutamakan kebermanfaatan yang dapat ia berikan pada masyarakat setempat. Sebagai contoh, Jokowi selalu menyiapkan beberapa sepeda sebagai hadiah untuk anak-anak yang dapat menjawab pertanyaannya. Hal ini menjadi sangat inspiratif bagi saya karena disamping meningkatkan rasa percaya diri pada anak, pemberian hadiah dari Jokowi juga memiliki manfaat yang lain seperti mendukung gerakan pengurangan kendaraan bermotor. Dengan memberikan sepeda, maka pemenang sepeda akan menggunakan sepedanya dan tidak menggunakan motor, paling tidak untuk berjalan dari rumah ke sekolahnya. Hal ini mengajarkan pada anak usia sekolah untuk menyayangi bumi, tidak menimbulkan polusi udara dan membiasakan berolahraga.

Hal ini diceritakan lebih detail pada artikel di nasional.kompas.com yang menyebutkan bahwa pemenang yang mendapatkan hadiah sepeda dari Jokowi tidak hanya dari kalangan anak sekolah, namun juga masyarakat di daerah, warga negara Indonesia di Australia, hingga para artis, semuanya berkesempatan mendapat hadiah sepeda dari orang nomor satu di negeri ini. Banyak warga yang merasa antusias ketika Jokowi akan membagikan sepeda, hal ini dikarenakan syaratnya yang hanya satu dan mudah, yakni berhasil menjawab kuis yang diberikan oleh Jokowi.

Kepala Sekretariat Presiden Darmansyah Djumala mengatakan, sepeda yang dibagikan Jokowi berasal dari anggaran bantuan sosial untuk Presiden. “Memang ada anggarannya untuk itu. Dari APBN,” kata Djumala. Biasanya, lanjut Djumala, pihak Istana menyiapkan 5-7 sepeda setiap kali Jokowi akan menghadiri acara yang diikuti masyarakat.

Namun, jumlahnya bisa bertambah tergantung berapa banyak masyarakat yang hadir. “Kalau jumlah masyarakat yang hadir sampai 3.000, kita siapkan sekitar 10-12 sepeda,” ucap Djumala. Hadiah sepeda Jokowi itu, lanjut Djumala, dipesan di setiap toko sepeda yang ada di daerah kunjungan Kepala Negara. Ada dua jenis sepeda yang dipesan, yakni untuk laki-laki dan untuk perempuan. Sepeda untuk perempuan berukuran sedikit lebih kecil.

Selain bermanfaat bagi pemenang, program bagi-bagi sepeda ala Jokowi ini juga bermanfaat bagi pengusaha sepeda di kota setempat. Tak ada toko khusus atau merek khusus. Sepeda Jokowi yang dibagikan bisa bermerek apa saja dan dipesan dari toko mana saja. “Karena di tiap kabupaten dan pulau kan mereknya beda,” ucap Djumala.

Djumala mengaku tidak tahu persis berapa harga tiap satu sepedanya. Pantauan Kompas.com di sejumlah toko jual beli online, sepeda merek Polygon yang diberikan Jokowi ke penyanyi Raisa berkisar pada harga Rp 4 juta. Lalu, mengapa hadiah sepeda? Menurut Djumala, suatu ketika Jokowi pernah menceritakan alasannya memilih sepeda sebagai hadiah.

Pertama, sepeda adalah alat transportasi yang sehat karena bebas polusi, sekaligus dipakai untuk berolahraga. Namun yang paling penting, sepeda adalah kendaraan yang merakyat dan bisa digunakan oleh semua kalangan. “Ini adalah angkutan rakyat dan semua orang suka sepeda. Multifungsi, multistrata. Bisa untuk orang dewasa, bisa untuk main anak-anak,” ucap Djumala. “Sepedanya sih enggak seberapa, tapi tulisan hadiah dari Presiden Jokowi itu,” tambah dia sambil tertawa.

Selain program bagi-bagi sepeda, Jokowi juga membagikan buku tulis untuk anak sekolah. Program ini sangat inspiratif di mata saya karena dengan membagikan buku tulis, Jokowi tidak memaksa anak-anak untuk membaca sesuatu yang Jokowi ingin sebarluaskan, melainkan Jokowi dengan tulus menginginkan anak-anak Indonesia suka menulis.

Ditinjau dari segi psikologis, ketika seorang anak mendapatkan buku tulis dari Presiden atau pejabat tinggi, keinginan anak tersebut untuk menulis akan meningkat drastis. Walaupun memang ada warga yang tidak menggunakan buku tersebut untuk menulis dikarenakan alasan „kapan lagi dapat buku dari Jokowi“, tetapi anak sekolah yang mendapatkan buku tersebut akan tetap meningkat keinginan menulisnya yang dapat dituangkan di buku lain.

Cerita dari program bagi-bagi buku ini tertuang dalam artikel pada detik.com. Tiga anak kecil berlarian kegirangan di pinggir jalan Desa Ibul Besar III, Kabupaten Ogan Iliar, Sumsel, Kamis (3/3). Digenggamnya satu buku bersampul putih yang baru didapatnya, sambil diacung-acungkan serupa mendapat harta paling berharga bagi anak seusia SD itu. “Dikasih Jokowi,” sahut si anak tersenyum girang kepada rekannya.

Dibukanya tiap halaman buku tulis itu, lalu dipamerkan ke temannya. Si anak berbaju sedikit lusuh di sampingnya ikut menengok isi buku, tak ada yang istimewa dari buku setebal 36 halaman itu. Tapi si anak bangga memilikinya. “Dari Jokowi,” katanya mengulang.

Begitu juga yang terjadi di Jalan Rembele, Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rabu (3/3) sehari sebelumnya. Di daerah pegunungan sekitar 4.500 m di atas permukaan air, ada anak-anak yang juga girang menggenggam buku tulis.

Didapatnya buku itu dari pinggir jalan, saat melihat iring-iringan mobil Presiden Joko Widodo melintas. Tak terbayang sebelumnya, ternyata Presiden Joko Widodo turun dari mobilnya hanya untuk memberikan buku kepada 3 anak yang berdiri di pinggir jalan.

Beberapa buku itu lalu dibawa si anak sambil ditunjukkan kepada ayahnya yang berdiri tak jauh dari pinggir jalan. Kemudian sambil melihat iring-iringan mobil Presiden Jokowi berlalu, si anak tersenyum menggenggam buku.

Hal yang sama terulang di banyak tempat, saat Jokowi mendarat di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Selatan dalam kunjungan tiga hari ke Sumatera. Kunjungan Jokowi itu tentu bukan untuk berbagi buku, tapi meresmikan dan meninjau banyak titik dari proyek tol Trans Sumatera hingga transportasi massal. Pertanyaannya, di manakah Jokowi menyimpan buku-buku yang dibagikannya itu? Buku-buku itu jumlahnya ribuan dibawa dalam banyak dus, Jokowi ternyata menyimpannya di bagasi belakang mobilnya yang berpelat ‘INDONESIA I’.

Mungkin tak lumrah isi mobil Presiden adalah buku tulis, dan juga kaos. Tapi begitulah Jokowi. Di beberapa tempat yang ramai masyarakat, Jokowi tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya. Dia bersalaman, melayani berfoto dan membagikan buku. Suasana pun mendadak riuh.

Di antaranya saat melintas di Jalan SM Raja, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Selasa (1/3). Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang berada di dua mobil di belakang mobil Jokowi, harus cepat turun begitu mobil Jokowi berhenti tiba-tiba.

Pasukan berbatik itu sigap menjaga Jokowi seketika masyarakat mengepung dari sisi kiri dan kanan jalan. Tampak Danpaspampres Mayjen Andika Perkasa, Dantim Advance Paspampres Letkol CBA Benny Mutiha Tampubolon, dan beberapa anggota Paspampres lain melekat di dekat Jokowi.

Memang banyak masyarakat yang menunggu iring-iringan mobil Presiden Jokowi melintas, lantaran ada banyak anggota polisi dan TNI yang berjaga di sepanjang jalan. Jokowi di sepanjang jalan itu, lebih banyak membuka kaca mobilnya untuk menyapa warga di pinggir jalan dengan melambaikan tangan, atau sekedar tersenyum dari balik kaca mobil. Mungkin debu yang masuk ke dalam mobil, sudah tak lagi jadi soal bagi Jokowi.

Soal buku tulis, tak semuanya dibagikan langsung oleh Jokowi. Banyak juga yang dibagikan Paspampres kepada warga yang kebetulan Jokowi menghentikan mobilnya di tengah perjalanan.

Lalu bagaimana rupa buku tulis Jokowi? Buku itu bersampul putih keabu-abuan, dengan cover berisi pesan dari Jokowi: “Ayo..Belajar, Belajar, Belajar.. -Jokowi-“. Pada bagian belakangnya tertulis juga kalimat dari Jokowi: “MEMBACALAH Dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan -Jokowi-“.

Ada tulisan lagi pada bagian dalam yang menarik, tepatnya pada tulisan di bagian bawah tiap halaman yang berjumlah 36 lembar itu. “Beli duku sama Bang Muin, Sekolah dulu baru main“. Satu tulisan lagi berisi pesan lain: “Ayo anak-anak rajin belajar, Kan ada Kartu Indonesia Pintar.”

Buku-buku yang ada di dalam bagasi mobil Jokowi itu, saat akan habis, diisi ulang oleh ajudan atau Paspampres dari mobil lain saat Jokowi berhenti di rumah makan atau masuk ke lokasi acara yang dituju. Ratusan buku itu kini ada di banyak tangan anak-anak di Sumut, Sumsel dan Aceh. Sekali lagi, buku-buku itu tak istimewa dan mungkin tak sebaik kualitas buku yang lain. Tapi kini menjadi sangat berharga bagi seorang anak ketika didapatnya langsung dari Presiden.

“Aku dapat buku tulis dari Jokowi,” begitu mungkin banyak anak-anak akan mengulang ucapannya. Dengan buku itu juga mungkin akan ada banyak anak-anak yang lebih giat belajar, seperti pesan Jokowi dalam cover buku. Mungkin juga buku itu hanya akan disimpan tak ditulisi sekata pun, sampai suatu saat nanti dia akan menggenggamnya lagi sambil tersenyum, “Ini buku tulis dari Jokowi”.

Jokowi telah banyak mencetak kisah inspiratif bagi saya dan mungkin bagi warga Indonesia lainnya. Kesederhanannya membuat semua orang “keki”, terlebih pada pejabat yang mementingkan diri sendiri. Saya harap kesederhanaan Jokowi dapat dijadikan contoh bagi seluruh warga Indonesia, khususnya para wakil rakyat yang menjabat di jajaran pemerintahan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Feist, Jess & Feist, Gregory J. (2005). Theories of Personality. New York: MC Graw Hill.

Ihsanuddin. (2017, April 12). Cerita di Balik Aksi Jokowi Bagi-Bagi Sepeda. Retrieved from kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2017/03/10/09383101/cerita.di.balik.aksi.jokowi.bagi-bagi.sepeda.

Iqbal, M. (2016, March 4). Buku Tulis dari Jokowi. Retrieved from detiknews: http://news.detik.com/berita/3157352/buku-tulis-dari-jokowi

Wibisana, T. (2017, April 12). Protokol Pengawalan Presiden Jokowi di Jalan Raya yang Menghargai Warga. Retrieved from indeksberita: http://www.indeksberita.com/protokol-pengawalan-presiden-jokowi-jalan-raya-menghargai-warga/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *