Tokoh Inspiratif; Budi Soehardi

Budi Soehardi adalah seorang pensiunan pilot Garuda yang sekarang berusia 61 tahun. Tidak hanya bekerja di Garuda, Budi juga pernah bekerja menjadi Captain Pilot di Singapore Airlines. Tokoh ini menjadi sangat inspiratif bagi saya karena kedermawanannya dalam menyisihkan gaji hingga mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengurusi ratusan anak di panti asuhan yang ia dirikan, yaitu panti asuhan Roslin.

Dilansir dari Kompas.com, Peraih CNN Heroes Award 2009, Budi Soehardi, akan tampil dalam Kompasianival 2016. Sesuai dengan tema besar yang diusung yaitu “Berbagi,” pada perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh Kompasiana ini Budi akan mengisi sesi talkshow bertema berbagi inspirasi.

“Iya, saya akan ikut mengisi jadi pembicara di Kompasianival nanti. Mengenai materi, saya belum memastikan akan berbicara soal apa, tapi kemungkinan tentang CNN Heroes Award yang saya dapatkan dulu,” ujar pria yang sempat berprofesi sebagai pilot ini kepada Kompasiana.

Pada 2009, Budi Soehardi meraih penghargaan CNN Heroes Award. Dia bersama istrinya mengelola rumah yatim piatu di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Panti Asuhan Roslin yang dibangun dengan uang tabungannya sendiri telah dihuni 47 anak pada tahun 2009. Untuk biaya operasional, Budi menyisihkan uang hasil pendapatannya sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan di Singapura.

Pada 8 Oktober 2016, Budi akan membagikan kisah inspiratifnya dalam Kompasianival 2016 yang berlangsung di Gedung Smesco, Jakarta Selatan. Selain Budi, ada juga beberapa pembicara lain yang ikut membagikan kisah-kisah menarik mereka sesuai dengan segmen masing-masing.

Pembicara lain yang telah memastikan kehadirannya antara lain pebalap GP2 asal Indonesia, Sean Gelael, yang akan mengisi segmen “Berbagi Prestasi”, kemudian ada juga Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang akan mengisi segmen “Berbagi Ilmu dan Teknologi”, dan masih ada beberapa pembicara lainnya.

Seorang Budi Soehardi adalah tokoh yang inspiratif bagi saya karena sifat dermawannya. Ia menyisihkan gajinya untuk rumah yatim yang ia kelola. Menurut kabar dari beberapa hasil dokumentasi kegiatan beliau sehari-hari, beliau kerap menyisihkan waktu untuk anak-anak yang tinggal di rumah yatim tersebut. Mengetahui keikhlasan yang ia berikan pada anak-anak yatim mengetuk pintu hati saya untuk mengevaluasi diri apakah saya sudah cukup berbagi untuk sesama atau belum.

Dalam liputan dokumentasi, beliau pun terlihat bahagia dan sangat menikmati menghabiskan waktu dengan anak-anak di rumah yatim tersebut. Hal ini sesuai dengan teori psikologi positif bahwa jika kita menjadi bermanfaat bagi orang lain maka kebermanfaatan itu akan berbalik pada kita dengan wujud kebahagiaan batiniah. Jika kita berbagi dengan ikhlas sebagaimana yang dilakukan oleh Budi Soehardi, maka kita akan merasakan kebahagiaan yang ditimbulkan dari kegiatan berbagi tersebut.

Ketika Budi Soehardi sudah pensiun, beliau mendedikasikan waktunya untuk ikut serta mengelola rumah yatim. Setiap hari Budi Soehardi menyempatkan waktunya untuk bermain bersama anak-anak di panti tersebut. Walaupun begitu, Budi Soehardi tetap dapat memiliki waktu untuk keluarganya. Sang istri pun sangat mendukung kegiatan yang dilakukan Budi Soehardi. Bahkan, ketika Budi Soehardi dipersilakan untuk maju ke panggung mengambil piala penghargaan CNN heroes, kalimat yang pertama beliau katakan adalah “Saya tidak pantas disebut pahlawan. Perkenankan saya, memperkenalkan pahlawan yang sesungguhnya. Istri saya, Peggy”.

Mengutip artikel dari Liputan6.com yang menyebutkan bahwa tidak banyak yang mengenal Budi Soehardi. Namanya mungkin tidak seterkenal motivator kondang Indonesia yang satu itu. Namun, di Nusa Tenggara Timur (NTT), pilot pesawat Singapore Airlines ini dijuluki sebagai malaikat. Kapten Budi mulai tergugah untuk membantu anak-anak di NTT setelah melihat tayangan di salah satu tv swasta nasional. Tayangan itu memperlihatkan kondisi para pengungsi Timor Leste yang menyedihkan. Setelah berdiskusi, ia dan istrinya memutuskan untuk membatalkan liburan keliling dunia dan berkunjung ke tempat pengungsian warga ex Timor Timor.

Awalnya, Budi beserta sang istri memberi bantuan berupa bahan makanan. Namun, setelah diperhatikan, berapa pun bantuan yang diberikan, selalu saja habis. Budi merasa hal seperti ini percuma. Pun, gagasan lain untuk membantu mereka dirasa kurang tepat.

Setelah memikirkan masak-masak, Budi memutuskan untuk membesarkan bayi-bayi yang terlantar. Ia memulai niatnya dengan membesarkan empat bayi. Bayi-bayi itu tak ada yang mau mengurus karena begitu kurus dan dipenuhi luka bernanah.

Sejak tahun 1998, ia pun mulai menyisihkan gajinya sebagai pilot untuk membangun panti asuhan. Pada tahun 2002, Panti Asuhan Roslin berdiri. Dengan niat membantu meringankan beban mereka yang kesusahan, Budi bersama istrinya ingin anak-anak yang mereka besarkan menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Cerita yang lebih detail diungkap pada wawancara Budi dengan Jawa Pos, 11 Oktober 2016: Budi menceritakan, kondisi para pengungsi parah sekali. Tenda pengungsiannya sangat tidak layak. Tempat tinggal sementara itu dibangun dari kardus, kain spanduk, dan barang-barang bekas yang ditali ke pohon. Belum lagi kebutuhan makanan mereka. Saat Budi dan keluarganya bersiap menikmati hidangan makanan Korea favorit mereka, para pengungsi harus membagi satu mi instan dengan seluruh anggota keluarga.

”Mereka masak mi di bekas kaleng cat. Mereka lalu memasukkan semua sayuran yang ada di sekeliling mereka. Termasuk rumput krokot yang tumbuh liar di situ,” kata Budi yang masih terbayang kondisi di pengungsian Timtim tersebut hingga sekarang.

Budi, istri, dan ketiga anaknya lantas saling pandang. Mereka mencoba saling meyakinkan apakah rencana liburan mereka yang dipersiapkan sejak lama akan tetap dilaksanakan atau tidak. Namun, akhirnya Budi meminta izin untuk mengalihkan liburan mereka ke Timor, NTT, guna membantu para pengungsi di sana. Tak diduga, istri dan anak-anaknya langsung setuju.

Malam itu juga Budi menyebar e-mail yang berisi rencananya terbang ke Timor. Dia membuka kesempatan kepada rekan-rekan sejawat yang ingin membantu para pengungsi di sana. ”Waktu itu saya pasang target bawa barang 250 kilogram dan uang 10 ribu dolar dari keluarga saya,” terangnya.

Paginya, ponsel Budi terus berdering. Rekan-rekannya ternyata menyambut positif ajakan Budi. Mereka ikut berpartisipasi. Ada yang menyumbang barang. Ada juga uang tunai. Jika ditotal, uangnya mencapai 67 ribu dolar, sedangkan barangnya membengkak menjadi 1 ton.

Tapi, persoalan baru muncul. Budi kesulitan untuk mengangkut barang sebanyak itu dari Jakarta ke Kupang. Seorang teman lalu menyuruh dia mengontak seseorang. ”Saya tidak kenal dia. Ternyata, dia adalah station manager Singapore Airlines di Changi. Saya lalu memperkenalkan diri sebagai Kapten Budi Soehardi agar bisa mendapat diskon kargo,” kenang Budi, lantas tertawa.

Lagi-lagi, tanpa diduga, Budi mendapat kemudahan. Dia bisa membawa barang-barang bantuan itu via pesawat kargo Singapore Airlines. Bahkan, yang mengejutkan, ketika dia akan membayar biayanya, petugas mengatakan bahwa semua gratis.

”Ketika saya tanya berapa, petugas konter bilang done. Katanya done untuk charity. Saya tidak perlu membayar sepeser pun,” cerita mantan pilot Garuda Indonesia (1976–1989), Korean Air (1989–1998), dan Singapore Airlines (1998–2015) itu.

Sebelum berangkat, Budi dan istri menambah barang yang akan dibawa ke Kupang. Jumlahnya sangat banyak. Sampai rumahnya di kawasan Kalideres tidak mampu menampung. ”Mungkin jika ditotal, beratnya sampai 9 ton. Ini juga makin membuat saya pusing memikirkan cara membawanya ke NTT,” ujarnya.

Keajaiban kembali menghampiri Budi. Saat sedang kalut dengan masalahnya, Budi menemukan nomor telepon temannya yang sudah lama hilang kontak. Dia teman pilot semasih di Garuda. ”Teman saya itu menyuruh saya menghubungi seorang kapten kapal Pelni yang mungkin bisa membantu saya,” kata pria asal Jogjakarta tersebut.

Budi pun langsung menghubungi kapten kapal itu dan mengungkapkan maksudnya. Awalnya sang kapten agak menjaga jarak. Namun, setelah mendengar nama keluarga Peggy, dia langsung ramah. Sang kapten malah meminta Budi memanggilnya om karena ternyata dia adalah teman kecil mertua Budi. ”Saya benar-benar dimudahkan,” ucap Budi penuh syukur.

Sesampai di kamp pengungsi di Atambua, Budi dan keluarga makin tidak tega melihat kondisi para pengungsi yang ternyata lebih merana daripada yang digambarkan di televisi. Para pengungsi sudah tidak peduli apa yang mereka makan. ”Makanan mereka dikerumuni semut pun masih tetap mereka makan. Bayi-bayi juga tidak terurus. Beberapa malah dibiarkan begitu saja karena penuh luka,” cerita Budi.

Setelah kunjungan pertamanya itu, di sela-sela kesibukannya bekerja, Budi dan Peggy masih bisa berkunjung ke Timor untuk membantu para pengungsi. Tidak seperti kedatangan pertama, kedatangan Budi selanjutnya tak membawa barang-barang bantuan. ”Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Kami bawa uang saja. Belanja di Kupang sudah cukup,” ujar peraih CNN Heroes 2009 tersebut.

Dari kunjungan demi kunjungan itu, terbetiklah niat Budi dan istri untuk mengentaskan anak-anak para pengungsi tersebut. Mereka lalu punya ide untuk membawa anak-anak itu ke Kupang. Awalnya mereka mengontrak sebuah rumah seharga Rp 500 ribu sebulan. ”Kami bermaksud merawat mereka. Dari rumah kontrakan itulah kami mulai merintis untuk mendirikan panti asuhan ini,” kata Budi.

Budi lalu mempekerjakan beberapa perempuan untuk merawat empat bayi yang berhasil mereka selamatkan dari tempat pengungsian. Budi menjelaskan, kondisi bayi-bayi yang ditinggalkan orang tuanya itu sangat memprihatinkan. Tubuhnya penuh luka. Bayi-bayi tersebut disembunyikan para pengurus tempat pengungsian agar tidak terlihat tamu yang mengunjungi kamp.

”Setelah ada rumah kontrakan itu, istri saya sering bolak-balik ke Kupang. Dalam sebulan bisa sampai lima kali. Dia yang ngurus panti asuhan ini,” terang pria 60 tahun tersebut. Ternyata, niat baik Budi dan Peggy sempat menjadi bahan pergunjingan masyarakat setempat. Keduanya sempat disangka sebagai anggota sindikat penjualan bayi. Masyarakat menuding mereka mengumpulkan bayi di rumah kontrakan itu untuk kemudian dijual ke luar Timor. Namun, Budi dan Peggy tidak menyerah pada tudingan miring tersebut. ”Saya dan istri terus menjalankan panti asuhan itu tanpa memikirkan omongan orang,” ucapnya.

Apalagi, dari hari ke hari jumlah anak yang dititipkan ke panti terus bertambah. Dalam waktu singkat, jumlah anak yang diasuh panti menjadi 16. Budi pun mulai kepikiran tempat penampungan mereka yang kian sesak. Maka, dia lalu berembuk dengan istri untuk mendirikan panti asuhan yang permanen.

Singkat cerita, Budi akhirnya bisa membangun panti asuhan di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kupang. Lahan yang dipakai adalah tanah yang dia beli pada 1990-an. Setelah gedung selesai dibangun, Budi makin serius menjalankan pantinya itu. Tak heran bila anak asuhnya terus bertambah. Kini jumlahnya mencapai sekitar 150 orang.

Sebagai pilot senior di maskapai internasional, kala itu Budi tidak kesulitan untuk menghidupi PA Roslin. Setiap bulan dia menyisihkan sebagian gajinya untuk mengembangkan Roslin. Mulai menambah bangunan, membuat bangunan baru, hingga mendirikan sekolah sendiri.

Tapi, setahun lalu Budi pensiun. Meski begitu, dia mengaku masih bisa hidup dan menghidupi panti asuhannya yang makin besar. ”Ini keajaiban lagi. Ada saja yang datang membantu. Seperti sekarang ini. Kami baru saja mendapat sumbangan laptop dari Angkasa Pura,” bebernya.

Budi percaya apa yang dilakukannya bersama sang istri merupakan sesuatu yang baik sehingga keajaiban pun terus hadir. ”Kami mengurus anak-anak Tuhan. Tentu Tuhan ingin memberi kami juga. Dan inilah hasil pemberiannya. Datang dari mana saja yang tidak diduga-duga,” kata Budi.

Saat ini beberapa anak PA Roslin sudah menyelesaikan sekolah. Bahkan hingga perguruan tinggi. Ada yang sedang menunggu sumpah dokter. Ada yang menunggu wisuda setelah lulus dari kuliah ilmu komputer. Ada juga beberapa anak Roslin yang dikirim ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan lebih baik. Anak-anak itu tidak kalah berprestasi dibanding mahasiswa lain di kampus mereka.

Saat ditanya alasan menolong anak-anak tersebut, Budi menjawabnya dengan kalimat yang sederhana. “Menurut sepengetahuan kami, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita diperkaya. Alangkah beruntungnya kita berada pada pihak yang memberi dan bukan yang minta dibantu dalam pemenuhan kebutuhan kita,” tutur Budi.

Kini, ia menjadi ayah angkat bagi ratusan anak di Kabupaten Kupang, NTT. Setiap anak di panti asuhan tersebut, wajib bersekolah dan belajar ilmu bercocok tanam. Pada tahun 2009, atas upaya tulusnya berbagi kebaikan pada sesama, ia dianugerahi penghargaan “The Real Heroes” dari CNN, kantor berita dari Amerika Serikat. Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mendapat penghargaan tersebut.

Dalam wawancaranya bersama Jawa Pos, Budi mengungkapkan ”Kami tidak menerima adopsi. Kami justru yang mengadopsi jika ada anak yang mau tinggal di panti”. Seperti itulah cerminan keikhlasan Budi dalam berbagi. Disaat panti asuhan lain menerima adopsi, panti asuhan Roslin yang ia kelola justru sebaliknya.

Setelah mengenal perjalanan heroic Budi Soehardi dengan lebih detail, saya harap artikel ini dapat mengetuk pintu hati siapapun yang membacanya. Dalam melakukan kegiatan heroic tersebut, Budi memang tidak mengharapkan imbalan sekecil apapun itu. Namun, karena kegiatan itu dilakukan dengan rasa tulus ikhlas maka Budi pun merasakan kebahagiaan batiniah tidak terputus.

Sungguh akan jauh lebih baik jika dunia ini memiliki banyak tokoh seperti Budi. Dalam lingkungan yang lebih spesifik lagi pun, orang-orang seperti Budi sangat dibutuhkan di setiap negara, setiap daerah, di setiap tempat di penjuru dunia. Menurut saya, kita memang tidak akan menemukan tokoh yang seperti Budi Soehardi. Namun kita dapat menciptakan karakter Budi di dalam diri kita sendiri. Jika bukan kita yang memulai, mencoba, dan membiasakan untuk berbagi, maka tindakan heroik Budi memang akan berhenti ketika Budi berhenti. Tetapi ketika kita berani mencoba dan memulai untuk berbagi, maka kita semua akan merasakan kebahagiaan batiniah seperti yang dirasakan Budi dan lingkungan kita pun menjadi damai dan sejahtera.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mardinata, S. L. (2017, April 12). Bukan Pilot Biasa, Kapten Budi Soehardi Ayah Bagi Ratusan Anak. Retrieved from Liputan6: http://citizen6.liputan6.com/read/2603512/bukan-pilot-biasa-kapten-budi-soehardi-ayah-bagi-ratusan-anak

Oktaviani, A. N. (2017, April 12). Budi Soehardi, Mantan Pilot yang Mendedikasikan Hidupnya di Panti Asuhan. Retrieved from Jawa Pos: http://www.jawapos.com/read/2016/10/06/55516/budi-soehardi-mantan-pilot-yang-mendedikasikan-hidupnya-di-panti-asuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *